Bukan Demi Uang, Alasan Khedira Bertahan di Juve Adalah Untuk Memenangkan Liga Champions!

Posted on
Setelah menjalani periode sulit sepanjang musim lalu, pascaoperasi jantung dan lutut, kini Sami Khedira merasa siap secara fisik maupun mental untuk mengarungi musim 2019/20.

JAKARTA – Kini, usia Sami Khedira (32 tahun) tidak lagi dapat dikategorikan muda sebagai seorang pesepak bola. Walau begitu, gelandang asal Jerman tersebut bersikeras ingin tetap berkarier di level tinggi bersama Juventus.

Bahkan, meski banyak menderita sepanjang musim lalu pasca menjalani operasi jantung dan lutut. Ditambah situasi skuat “I Bianconeri“, yang jajaran gelandangnya didominasi pemain berumur di bawah “kepala tiga”.



Terlepas dari semua itu, Khedira ngotot bertahan di Allianz Stadium dan memperjuangkan tempatnya dalam tim Juve. “Saya yakin bisa kembali ke level tertinggi dan bermain di standart seperti itu selama tiga tahun lagi,” kata Khedira.

Di sisi lain, Khedira mengerti bila namanya kerap diisukan masuk daftar jual “Si Nyonya Besar”. Diakui Khedira, bukan hanya sekali – dua kali dirinya dirumorkan siap dijual dalam beberapa tahun belakangan.

Toh pada akhirnya, Khedira menjelaskan dia berhasil bertahan dan bermain untuk Juve. Gelandang kelahiran Stuttgart ini pun mengakui belum pernah bernegosiasi dengan klub lain sepanjang bursa transfer musim panas 2019.

“Saya mendengar kabar bahwa saya bertahan lantaran uang dan yang mengejutkan mereka (penggemar Juve) mempercayainya. Saya tidak pernah bermain cuma demi uang, melainkan untuk memenangkan trofi,” kata Khedira. “Saya tidak akan dan tidak ingin pergi!”

Sami Khedira (depan) menggendong rekan setimnya, Cristiano Ronaldo, ketika menjalani suatu sesi latihan Juventus dalam masa pramusim 2019/20.

Sehubungan dengan trofi yang paling didambakannya diraih bersama Juve, Khedira langsung menyebut trofi Liga Champions. “Saya ingin mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Karena saya mencintai klub, tim serta kota ini,” Khedira mengungkapkan.

Lebih lanjut, Khedira menilai Juve tak perlu malu-malu dan menyembunyikan hasrat mereka kepada trofi “Si Kuping Besar”. Wajar, sebab kali terakhir klub milik keluarga Agnelli itu memenangkan Liga Champions terjadi pada 23 tahun silam (1995/96).

Juve telah menjalani penantian terlalu panjang. Ditambah, pengorbanan mengeluarkan banyak uang untuk membangun tim yang solid sehingga pantas menjuarai Liga Champions.

“Kami tidak membeli (Cristiano) Ronaldo dan (Matthijs) de Light hanya untuk melaju sampai babak perempat atau semifinal,” kata Khedira. “Jika Anda bermain di Juve, Anda akan selalu berambisi memenangkan Liga Champions!”

Tak lupa, Khedira pun menilai bahwa persaingan di ajang Serie A pada 2019/20 bakal lebih seru nan mengasyikan ketimbang musim lalu. Dua klub yakni FC Internazionale dan S.S.C Napoli difavoritkan Khedira sebagai pesaing berat bagi Juve mempertahankan gelar.

“Setelah mengambil pelatih sebagus (Antonio) Conte, Inter menjadi kian kuat. Sedangkan Napoli harus selalu dipertimbangkan,” kata Khedira. “Musim ini akan bagus buat saya bila dapat memainkan 80 persen laga Juve sekaligus memenangkan tiga piala.”