Donnarumma – Milan, Apakah Kali Ini Masih Bisa Bersama?

Diposting pada
Nasib kelanjutan karier Gianluigi Donnarumma bersama AC Milan kerap kali tak menentu ketika periode bursa transfer pemain dimulai.

JAKARTA – Sejak menyelesaikan musim debut di AC Milan (2015/16), nama Gianluigi Donnarumma selalu muncul setiap bursa transfer pemain dimulai. Maka jangan heran, nasib penjaga gawang berusia 20 tahun itu sering tidak menentu.

Seakan mengalami dejavu, lantaran “dihampiri” pertanyaan yang sama dari musim ke musim. Apakah kali ini, Donnarumma dan Milan masih bisa bersama?



Donnarumma, walau masih belia, tak pernah malu apalagi ragu-ragu mengungkapkan kecintaannya kepada Milan. Dia mencium logo klub, juga meletakan tangannya di kostum bagian dada kiri (tanda penghormatan).

Donnarumma mengaku bahwa tetap berkostum “I Rossoneri” adalah prioritas dalam kariernya. Kiper berpostur 1,96 Meter tersebut bahkan berani “melawan” perintah agennya, Mino Raiola.

Sekitar dua tahun lalu, Donnarumma memutuskan sendiri memperpanjang kontraknya bersama Milan (30 Juni 2021). Padahal sebelumya, Donnarumma diminta Raiola supaya mengabaikan proposal kontrak baru dari direksi Milan.

Sebabnya, kubu “Tim Iblis Merah” tidak mengabulkan sejumlah syarat dari Raiola untuk kliennya tersebut. Mulai dari pengangkatan Donnarumma sebagai kapten tim waktu itu hingga penyesuaian gaji baru yang tinggi.

Raiola pun lalu berencana memboyong Donnarumma pergi ke Real Madrid, salah satu alasannya dikabarkan demi meraup komisi transfer yang besar. “Raiola bangkit (dari meja negosiasi) dan bilang ‘jangan menandatanganinya, ayo pergi,” kata Massimiliano Mirabelli.

Mantan direktur teknik Milan ini menambahkan “Setelah dia (Raiola) beranjak menghilang, Donnarumma kembali untuk langsung membubuhkan tanda-tangan di kontrak yang kami sodorkan.”

Semua itu jelas dilakukan Donnarumma, demi membuktikan betapa Milan memang prioritasnya. Perlahan, Milanisti yang sempat menganggapnya “mata duitan” berbalik mencintai dan memuji loyalitas Donnarumma.

Tergoda Pemasukan “Selangit”

Jadi, mengapa dari tahun ke tahun tetap saja muncul pertanyaan apakah kali ini Donnarumma – Milan masih bisa bersama? Bukankah relasi maupun kepentingan di antara kedua belah pihak tersebut sudah jelas dan searah.

Jawabannya adalah karena godaan akan pemasukan “selangit” yang terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Sebab sesungguhnya bukan Raiola seorang yang mengincar keuntungan hakiki, melainkan juga direksi Milan.

Lain situasi dulu (2017), lain pula situasi sekarang (musim 2019/20). Saat ini, Milan amat membutuhkan tambahan dana segar untuk belanja sejumlah penggawa baru.

Kebijakan Financial Fair Play (FFP) tidak hanya membuat Milan mundur dari Liga Eropa 2019/20. Tapi juga memaksa “I Rossoneri” tak memungkinkan untuk boros menggunakan uang kas mereka. Konsekuensi situasi rumit itu, direksi Milan harus menjual beberapa penggawa asetnya demi berburu uang kontan.

Di antara nama-nama dalam skuat Milan, Donnarumma salah seorang yang punya nilai transfer tinggi. Para pengamat di Eropa menaksir harga Donnarumma tidak kurang dari 50 juta Euro (sekitar Rp 804 miliar). Jumlah yang bisa dialokasikan Milan untuk memboyong beberapa incaran mereka.

Nilai transfer yang tinggi, membuat Gianluigi Donnarumma harus pasrah bila direksi Milan memutuskan menjualnya.

Donarumma pun hanya bisa pasrah bila Paolo Maldini (direktur teknik) atau Ivan Gazidiz (CEO Milan) kelak memutuskan menjualnya. Percuma saja memilih loyal, bila klub yang diprioritaskan oleh Donnarumma malah tak berkomitmen tetap bersama.

Keberadaan Pepe Reina ditenggarai adalah alasan mengapa Milan rela kehilangan Donnarumma. Ditambah lagi, klub yang bermarkas di San Siro ini masih memiliki Alessandro Plizzari. Nama kedua itu digadang-gadang sebagai kiper muda potensial yang tak kalah hebat dibandingkan Donnarumma.

Peluang Pindah ke PSG

Sejauh ini, hanya Paris Saint-Germain (PSG) yang berminat serius mendatangkan Donnarumma. “Les Parisiens” dikabarkan sudah melayangkan tawaran perdana, yakni uang 20 juta Euro plus Alphonse Areola. Tapi Milan menolak mentah-mentah, karena cuma menginginkan uang tunai.

Gagal di usaha pertama, tampaknya tidak lantas membuat PSG menyerah begitu saja. Dengan mengandalkan sosok Leonardo Nascimento (yang musim lalu menjabat posisi direktur olahraga Milan), PSG berharap bisa membawa Donnarumma ke Paris.

“Bersama PSG, dia memiliki lebih banyak peluang bersinar di level atas. Donnarumma akan tampil di Liga Champions sebagai protagonis,” kata Massimo Taibi. Bekas kiper Milan ini pun merasa wajar bila Donnarumma dilirik klub-klub top Eropa.

Dirinya melakukan banyak hal luar biasa, padahal masih sangat muda. (Salvatore) Sirigu – penggawa Torino – adalah kiper terbaik musim lalu dalah hal kinerja. Tapi bila dinilai secara keseluruhan, saya pikir Donnaruma lebih hebat,” Taibi menambahkan.

Sementara itu, Luca Marchegiani berkomentar dirinya tidak akan terkejut bila Milan dan Donnarumma memutuskan berpisah kali ini. Eks kiper Lazio tersebut menilai, ada terlalu banyak konflik yang sudah memberatkan Donnarumma.

“Saya tidak pernah yakin dia akan menghabiskan seluruh karier bersama Milan. Itu (perpisahan) adalah takdir yang sudah tertulis sejak karier Donnarumma dimulai,” ujar Marchegiani. Jadi, apakah kali ini Donnarumma – Milan masih bisa bersama?